Minggu, 18 Maret 2012

Gabus dalam Gelas



Timbul tenggelam
bagai gabus dalam gelas
terombang-ambing gelombang ringan
mengentaskan hasrat menggebu
dalam ketakutan akan pilihan

Muncul perlahan
kemudian lenyap tersapu debu
mengenyampingkan impian membara
demi kenyamanan tak kentara

Goyah..
mudah patah...
tak siap berlapis baja
selalu gundah dalam sulaman ilusi
yg kian pekat tunduk pada penguasa fana

Tidakkah kau bangkit untuk tegap?
inginkah langkahmu serapuh sayap kupu-kupu?

Telaga cintaku, masih terhampar untukmu
semangatlah, sahabat!
kokohkan tekadmu!
hancurkan benteng kenyamananmu!
dan raihlah bintang fajar guna terangi duniamu!

Jangan risau, sahabat!
kejamnya petir, tak akan membuatmu hancur...
ku kan slalu menopang angin yang menerpamu...

Usah khawatir, sahabat!
sandarkanlah dirimu di bahuku, bila kau lelah...
jabatlah tanganku, bila kau lara
aku tak akan gusar menjadi bara dalam jiwa

Mari, sahabat!
kita berlari bersama
untuk raih futtuh yang nyata!

Sabtu, 17 Maret 2012

Metamorfosa Pedang Quraisy


Gerakan perlahan namun pasti
mengusik batin Sang Singa Padang Pasir
memercikkan dendam beradu ambisi
menyemburkan nafsu tanpa tebang pilih

Sang tangan besi
tak sungkan memberi sanksi
terhadap para pengikrar janji
untuk tegakkan syariat Illahi Rabbi

Tubuhnya kian terkulai
menyiksa logam mulia tak berkarat
walau sang logam telah meluruh,
namun keyakinannya tak kunjung melepuh

Rasa sesak menyebari nadi
bermacam tanya meracuni pikiran
akan metamorfosa Maha Agung
berkelibat tanpa lelah di hadapan

Sekali lagi, nafsu menghalangi
menghalangi jalan, terhadap celah kebenaran
ia kembali mengaum
beruntung Ash Shiddiq datang menebus
mengamankan mutiara yang nyaris rapuh

Rasulullah bermunajat pasrah
berharap terbukanya satu pintu di antara dua
guna menopang kemenangan cahaya

Hatinya kian gelisah
tak kuasa menahan amarah
mengusung pedang, menagih darah
menuntaskan "perpecahan umat"
menghabisi Sang Pembawa Risalah

Amarahnya memuncah
tatkala wanita lembut berpaling darinya
mengaburkan kiasan pada lisan

Hatinya terenyuh
melihat kekuatan muslimah yang tersingkap
memutuskan pertalian nasab
merobohkan keangkuhan mahkota Raja Rimba

Dia terkejut...
menyaksikan pancaran iman
seorang lemah berubah tegar
demi mengagungkan satu kalimat suci

Lantunan Thaha mengguncangkan nyali
mengoyak ego diri
menghancurkan emosi penyangga langit
lelehan air mata menggugurkan gelombang
mengikrarkan taubat, meneguhkan syariat
janji suci terucap, syahadat memecah hening
takbir menggema rata, menenggelamkan istana Hijaz

Syukur menghantam dahsyat
menerobos kegelapan kelam
menuju kejayaan terang
bersenjatakan Muttaqin utama...

Dalam Dekapan Cahaya


Seruan itu datang
menusuk Gua Hira
mendekap seorang ummi
hingga dadanya terhimpit
bumi yang luas tiba-tiba menyempit

Seruan itu datang
dengan perlahan tanpa jejak
terhapus dari pandangan pendek
sangat rapi, membungkus orang-orang pilihan
mencetak baja tanpa korosi

Bergulirnya waktu, titah itu turun
menyuarakan perintah dengan terang
berawal dari Bukit Shafa
meresahkan tahta para pembesar

Cacian menghujani mereka
gelaran Al-Amin lenyap dari pandangan
siksaan pun slalu dialamatkan,
terhadap para pejuang Tauhid
bermentalkan belati mujahid

Air mata mengering
beruntun beserta barisan awal
rapat, namun sangat sedikit
derita kian tak terasa lagi

Datanglah Singa ALLAH
seorang kerabat penutup Nabi
mengokohkan benteng
menambahkan menara tinggi
serta menyilaukan bara api

Namun, derita belum berakhir
memar tiada henti menepi
bergerak pasti, tanpa lingkupan pelindung inti
hanya ALLAH yang selalu menyertai

Puisi-puisi Kecil

PUISI PERTAMA  

Mimpiku terbang bersama rona cinta
menyelubungi hati, kandaskan perih
perlahan tapi pasti
kuasai rusuk hingga sel-sel tubuh
terbangkan ruh menembus awan
menaiki langit genggam mentari

Tak sanggup butiran lisan bertutur
menyelami sejengkal telaga harap
tiada mampu menyangkal
terhadap semua bukti cinta-Nya


 
 PUISI KEDUA
Rabbku penuh cinta
meniupkan mimpi dalam raga
kendalikan nafsu dalam penjara iman
mengikatkan Arsy-Nya bersama taqwa

Rabbku tak pernah tidur
membelaiku penuh nikmat
menurunkan syahdu rindu dalam mahkota derita
menyelamatkan insan yang hancur
dengan magfirah-Nya Yang Mahaluas



PUISI KETIGA

Kupersembahkan pertalian loyalitas
kepada Sang Kholik penebar damai
kukirim sepucuk rindu
lewat senandung doa nan merdu
dalam naungan sujud dan ruku
Kukabarkan berita gembira,
karya terindah Sang Pencipta
Al-Quran, Penyejuk Jiwa

Saat Kecewa Menengok Hati



Langit suram hiasi senja
senyuman memudar diseret waktu
impian hangus jadi abu
terendam tangis lautan hampa

Ingin kupetik canda sebanyak hati menerpa
ingin kuraih mimpi setinggi jangkauan langit
namun,
tak semua yang kuinginkan mekar seindah mawar
hanya doa, penopang jiwa yang runtuh

Walau kecewa menggelayuti diri,
Rabbku tak pernah jera memberi mimpi
ia tak kan biarkan aku jatuh
Dia akan basahiku dengan cinta-Nya

Mentari pasti cerahkan semangat yang memutih
aku percaya...
senyumku akan raih dunia kembali
gapai kebahagiaan kekal di alam milik Illahi Rabbi...

Sistem Antibodi Muslim



Semangatku larut dalam plasma darah
lalu terpacu oleh pompaan jantung
menjalar halus ke paru-paru
dan tersebar sempurna lewati nadi
membawa nutrisi motivasi tak terukur

Hidupku laksana fotosintesis
menelan pahitnya karbondioksida
tuk bebaskan oksigen ke udara
menghasilkan senyuman semanis gula
dengan bantuan cahaya biru nila

Musuhku serupa virus
tak terlihat kalahkan debu
parasit sempurna terhadap iman
melisis rohani dengan kejam
tak perlu vektor tuk mencengkram
cukup selebungi hati terdalam

Sulit untuk dibasmi
walau dengan antibiotik tingkat tinggi
itulah ia, setan yang menyelubungi hati
hasut hasrat tak terperi

Tapi jiwa tak gentar
melawan musuh nan tangguh
lawan ia dengan sel-sel imun syahadat
tuk hancurkan ia lengkap dengan DNA-nya

Tak perlu risau...
asupan nutrisi motivasi telah menyiapkan barisan
begitu juga dengan sokongan glukosa
tlah siap untuk sumbangkan seluruh energinya...

SEMANGAT MARDHATILLAH!!!

Sangsakala Perang



Gemerincing perang telah tertabuh
sangsakala maut tlah siap menjemput
pedang dan tombak, telah terasah tanpa tumpul
kuda tempur berbaris patuh
tiada ragu apalagi rapuh
tak ada takut untuk jatuh

Jiwa ini kepalkan tekad
untuk senyawakan iman dan takwa
dalam reaksi sempurna
tuk hasilkan molekul jiwa syuhada

Inilah aku...
hamba ALLAH yang tangguh
tanpa takut tornado menempuh
ku kan tegap hapuskan ragu


GANBATTE KUDASAI!!!