Rabu, 31 Juli 2013

Belajar dari Rekan-rekan Sejawat

Jadi teringat cerita adik saya waktu sanlat beberapa hari yag lalu...
menurutnya,, Ramadhan itu adalah...BBM (Bulan Barokah dan Magfirah), Pertamaks (Perangi Tabiat Maksiat), dan Solar (Solat Lebih Rajin)...

Apa yang diungkapnya memang benar...Bulan Ramadhan adalah bulan yang dilimpahkan berkah dan ampunan...bulan Ramadhan juga terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan...bulan Ramadhan adalah bulan terdahsyat yang ALLAH berikan...bulan Ramadhan adalah bulan kemenangan...

Tapi pertanyaannya, apakah semua orang memperoleh kemenangan di bulan ini? Lalu,,bagaimana caranya untuk meraih kemenangan tersebut???

hanya orang yang senantiasa bersungguh-sungguh berjuang di jalan ALLAH-lah yang akan memperoleh kemenangan sejati...orang-orang yang senantiasa bersabar dalam kebaikan serta tak jemu untuk menjalankan amanah-Nya dengan penuh keikhlasan hati...

Di tengah kelelahan yang melanda, panas yang menerpa, serta stres berat yang menghujam,, mereka mampu mempersembahkan karya terbaik untuk Rabb-nya...Dalam berbagai kondisi.. Susah, senang, suka, maupun terpaksa,,mereka mampu memenuhi panggilan suci di jalan Illahi Rabbi... Sungguh luar biasa orang-orang pilihan tersebut...

Alhamdulillah,, di Ramadhan tahun ini,, saya dapat berjumpa dengan mereka... orang-orang yang rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk menggapai visi nan mulia...Dalam berbagai tekanan yang ada,, mereka mampu mempersembahkan karya terbaik... Keterbatasan tidaklah menyurutkan tekad mereka untuk melangkah...

Subhanallah,, saya sungguh belajar banyak hal dari mereka... Saya benar-benar salut dengan kesungguhan mereka..
Terima kasih Ya ALLAH,,Engkau telah berkenan untuk mempertemukan hamba dengan orang-orang yang insyaallah Engkau ridhai... Semoga apa-apa yang kami lakukan, menjadi lahan bagi kami untuk beramal soleh...

aamiin


Jumat, 01 Maret 2013

Jangan Tanyakan: "Apa yang telah ALLAH Berikan?", tapi Tanyakanlah: " Apa yang sudah kulakukan untuk ALLAH?"

Kawan, coba hitung, selama kehidupanmu, sudah berapa kali kau meminta kepada ALLAH???
sudah berapa banyak kau menuntut kepada-Nya???
dan...seberapa sering kau menyesali serta menyalahkan kehendak-Nya???

bagaimana? Bisakah kau menghitungnya? Hmm.. pasti lumayan sulit ya..
Baiklah..Kalau begitu, saya lanjutkan ke pertanyaan berikutnya:

Sekarang, pernahkah kau berbuat dan memberikan sesuatu untuk ALLAH??
Jika pernah, sudah berapa banyak kau berbuat? Dan apa sajakah itu???

Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas mampu membuat kening Anda mengerut. Berpikir dengan berbagai pertanyaan sederhana yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Jika kita bandingkan, pasti kita lebih banyak menuntut kepada ALLAH, bukan? Dalam setiap hal. Baik dalam sekolah, keuangan, pertemanan, kuliah, pekerjaan, dll. Setelah diberi sepeda, minta motor. Setelah diberi motor, minta mobil. Begitu seterusnya. Wajar? Ya, karena memang sifat dasar manusia itu serakah alias tidak pernah bisa puas. Manusia itu sedikit sekali bersyukur. Dan seringkali kufur. Karena sifat itulah, manusia tak jarang mengingkari nikmat dan kuasa ALLAH. Lalai dalam menjalankan kewajiban. Enggan untuk taat dan tunduk terhadap aturan-Nya.
Betapa memilukannya manusia. Berani meminta, tapi enggan memberi. Selalu menuntut haq, tapi enggan menuntaskan kewajiban.

Lalu, bagaimanakah denganmu, Kawan?
Apakah kau termasuk golongan mereka yang kufur?
Atau kau merupakan salah satu orang yang taat dan bersyukur?

Coba tafakuri diri dan renungkanlah...
Janganlah kau lupa: ALLAH menunggu pembuktian janji kita pada-Nya...


SEMANGAT MARDHATILLAH!!!!


Minggu, 03 Februari 2013

Tekad Bocah SMP

Sedikit kilas balik ke masa lalu:

Teringat saat saya lulus SMP waktu itu. Saya begitu berambisi untuk menjadi seorang ilmuwan yang handal. Maka, untuk mengwujudkan impian tersebut, hanya ada satu jalan untuk saya, yakni masuk SMK Analis Kimia atau Farmasi.

Namun sayang, langkah saya tidak direstui oleh Bapak. Alasannya? Cukup klasik: BIAYA. Memang, sekolah di farmasi tidaklah murah. Bahkan bisa dibilang, cukup mahal untuk ukuran tingkat SMA/SMK. Karena memang bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam praktikum sehari-hari tidaklah murah.

Saya dapat mengerti kegundahan Bapak. Tapi kegundahan beliau tidak dapat menggeserkan tekad saya sedikit pun.#dasar keras kepala#. Saya yakin, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Begitu banyak jalan menuju Roma. Bisa lewat jalur darat, udara, dan air. Begitu pula dengan mimpi saya. Walau terdengar sulit, tapi saya yakin ALLAH akan memudahkan jalan saya. Bisa saja di tengah-tengah studi, saya mendapatkan beasiswa. Tidak menutup kemungkinan, kan? Ya, meski saya sadar, kemungkinan untuk mendapatkan beasiswa itu sangatlah tipis. Pasalnya, tidak ada SMK Farmasi negeri saat itu..#tapi kemudian muncul SMKN 7 Bandung sebagai SMK Farmasi negeri pertama, walau sebenarnya biayanya sama saja#..

Selain itu, ada satu hal lagi yang membuat Bapak saya ragu untuk menyekolahkan saya disana. Menurut rumor yang beredar, SMKF atau yang dulu dikenal sebagai Sekolah Asisten Apoteker (SAA), merupakan sekolah yang cukup angker untuk dihuni bocah seperti saya. Maksudnya????

SMKF waktu itu masih menerapkan sistem DO (Drop Out). Jadi, siswa yang nilainya tidak memenuhi KKM selama tiga kali, dia akan langsung ditendang dari sekolah tersebut. Ujiannya pun sangat sulit, bertubi-tubi serta penuh liku. Otak mereka diperas sangat ekstra sampai" darah mereka terkuras habis...#lebayyyy#....Sedikit sekali yang bisa lulus tepat waktu dari sana. dari 45 orang, yang lulus hanya 4 orang. #WHAAAAAAAAAAAAT?????#

Bukan hanya itu, pelajaran sehari-harinya juga cukup membuat otak Anda meledak. Susahnya minta ampun. Hapalan dimana-mana. Hitungan juga turut serta. Pokoknya, Farmasi itu....bisa membuat orang-orang menjadi GilA...dan jika komplikasi terus berlanjut, bisa menyebabkan efek "sindrom bunuh diri"..
heu"...#Mengerikan!!!!#

Intinya, Bapak saya meragukan kemampuan saya untuk bisa bertahan hidup di Farmasi selama 3tahun. Mengingat nilai UN saya yang,,yah....cukup pas-pasan...#sebenarnya sangat sekarat!!!#...,,wajar bila beliau cemas.

Tapi, sekali lagi, saya adalah orang yang pantang menyerah. Saya yakinkan Bapak berkali-kali bahwa saya mampu untuk menghadapi itu semua. Dan saya mampu bertanggung jawab atas keputusan besar yang saya ambil ini.

Akhirnya, hati Bapak luluh juga. Beliau mengizinkan saya untuk sekolah di Farmasi. Dengan catatan, saya harus bisa bertanggung jawab dengan tindakan saya ke depannya. Oke,,DEAL!!! Saya menyanggupi syarat tersebut.

Saya, Mama, dan Teteh mulai mencari-cari info sekolah farmasi di Bandung. Sekolah pertama yang didatangi adalah YPF. Namun, Teteh saya tidak mengizinkan untuk sekolah disana. Karena tempatnya sangat terpencil. Nun Jauh disana. Sekolah berikutnya adalah SMF Bumi Siliwangi. Sial, kami terlambat. Pendaftarannya sudah ditutup. Bahkan ujian saringnya sudah berakhir sehari yang lalu. Lalu ada SMF BPK Penabur. Sekolah Katolik. Fasilitasnya sangat baik, sekolahnya pun terlihat sangat menjanjikan. Namun, biayanya paling mahal diantara sekolah-sekolah farmasi lainnya. Dan yang terakhir, SMK Farmasi Nusa Bhakti Bandung. Meski baru, tapi kualitas pengajar-pengajarnya cukup menjanjikan. Dan tempatnya pun cukup dekat dengan rumah saya, yakni di Talaga Bodas.

Setelah menimbang dan seterusnya,,,
memperhatikan dan seterusnya....
Saya memutuskan untuk memilih SMK Farmasi Nusa Bhakti Bandung sebagai pelabuhan hidup berikutnya.
Dan kisah ini pun,,,dimulai.....
Yattaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!


#To be Continue...

Kamis, 20 September 2012

Alasan Masuk Analis Kesehatan

Alasan saya masuk analis kesehatan sebenarnya sederhana saja, karena saya suka dengan dunia analis. Dari kecil saya bercita-cita ingin menjadi seorang ilmuwan. Saya ingin melakukan suatu penelitian akbar yang bisa menolong banyak orang. Ingin menganalisa darah, zat yang terkandung dalam makanan, dan masih banyak lagi. Bahkan saya sangat ingin bergabung dengan tim laboratorium WHO.

Terdengar konyol memang. Tapi itulah cita-cita masa kecil saya. Impian tersebut bertahan cukup lama. Sampai akhirnya, demi mencapai cita-cita tersebut, saya memutuskan untuk masuk SMK Farmasi. Walau sempat pusing, tapi saya sangat menikmati masa-masa pendidikan disana. Di SMK Farmasi, hari-hari saya dipenuhi oleh jadwal praktek yang padat, hafalan yang menumpuk, serta tugas-tugas yang menggunung. 

Saat semua orang menyesali masuk SMK, saya justru sangat bahagia dan bersyukur bisa masuk sana. Karena di SMKF, saya dapat memuaskan nafsu belajar saya yang sangat menggebu-gebu. Tapi ada yang paling membuat saya syukuri adalah saya dapat mempelajari lebih dalam tentang tiga materi favorit saya, yakni kimia, biologi, dan farmakologi.
 

Celakanya, setelah lulus, saya baru mengetahui kalau saya ternyata salah memilih jurusan. Profesi yang saya ambil, ternyata lebih menekankan kepada pelayanan obat ke pasien. Bukan seperti yang saya bayangkan. Berdiam diri di laboratorium, sambil meneliti hal-hal kecil dengan mikroskop. Tapi yang terjadi adalah saya harus menerima resep, membacanya, memberikan harga, menyiapkan permintaan resep, meracik, mengemas, dan menyerahkan permintaan resep kepada pasien. Saya sempat kecewa.
 

Saat lulus, saya sempat mencoba keberuntungan dengan mengikuti SNMPTN. Dan hasilnya, alhamdulillah gagal. Kegagalan saya tidak saya sesali, karena memang sudah saya rencanakan sejak kecil, kalau saya akan bekerja dulu setahun baru kuliah dengan biaya sendiri. Kemudian saya bekerja di apotek. Disini rasa kecewa mulai datang secara serempak. Banyak hal yang membuat saya tidak puas. Mulai dari masalah gaji, pembagian tugas pekerjaan, lingkungan kerja, rekan sejawat, sikap atasan yang kurang mengenakkan, dan masih banyak lagi. Akibatnya, saya hanya sanggup bertahan satu bulan disana.
 

Selama tiga bulan saya mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan kehendak saya. Yakni bekerja di laboratorium industri. Saya memasukkan lamaran ke semua industri farmasi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Saya kirim lamaran dengan datang langsung ke perusahaannya, via pos, dan via email. Tapi hasilnya, satu pun tidak ada yang memanggil saya.
 

Saya semakin frustasi ketika melihat teman-teman yang prestasi akademiknya jauh di bawah saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Barulah disana saya menyadari, bahwa prestasi akademik tidak terlalu berpengaruh dalam bekerja. Di tengah keputusasaan yang menjadi-jadi, orangtua saya terus mendesak saya untuk mengikuti tes CPNS. Saya menolak. Karena saya tidak mau bekerja di puskesmas selamanya. Walau pada akhirnya saya menuruti mereka. Dan alhamdulillah, saya gagal menjadi PNS. Sungguh kegagalan kali ini merupakan kegagalan yang paling saya syukuri dalam hidup saya.
 

Kemudian, dengan harapan sebesar debu, saya mencoba melamar ke rumah sakit Al-Islam Bandung. Sebulan kemudian saya dipanggil pihak SDM untuk melakukan berbagai tes dan wawancara. Tiga jam kemudian saya mendapat telepon dari mereka. Saya resmi diterima menjadi karyawan rumah sakit Al-Islam.
 

Tiga bulan pertama saya mengalami depresi hebat. Tekanan tiada henti menghampiri dari berbagai pihak. Pasien, perawat, dokter, atasan, dan rekan sejawat. Bobot tubuh saya menurun drastis. Kenapa bisa demikian? Jelas, karena saya tidak menginginkan pekerjaan ini. Saya sangat tidak suka dengan pekerjaan yang mengharuskan saya berhubungan langsung dengan orang banyak.
 

Namun luar biasanya, saya dapat bertahan disana cukup lama. Enam belas bulan. Justru di rumah sakitlah saya dapat mengembangkan kepribadian dan ilmu saya serta mengasah kemampuan dalam berkomunikasi. Pasalnya, disana saya mengalami beberapa kali mutasi. Pertama kali saya bekerja, saya ditempatkan di rawat jalan ASKES. Kemudian dimutasikan ke bagian distribusi, rawat jalan umum, kembali lagi ke rawat jalan ASKES, dan terakhir menjadi penanggungjawab ruangan VIP di rawat inap. Hal tersebut membuat pengalaman saya semakin matang. Saya sempat ingin mengikuti SNMPTN lagi, tapi batal karena saya masih terikat kontrak dengan RSAI.
 

Tahun 2011, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari RSAI. Alasannya, ingin fokus mempersiapkan diri untuk SNMPTN terakhir. Saya belajar siang dan malam, tak kenal lelah. Demi menggapai satu impian, menjadi mahasiswi ITB. Ya, ITB adalah impian saya sejak kecil. Saya ingin sekali masuk SITH ITB. Tapi, saya urungkan niat tersebut. Karena berdasarkan keterangan banyak pihak, prospek kerja untuk S1 SITH itu cukup gelap. Biasanya, lulusan sana ujung-ujungnya terdampar sebagai pegawai bank. Jadinya saya terpaksa memilih SF ITB.

Namun apa daya, SNMPTN terakhir pun saya tetap gagal. Yang paling menyakitkan hati, ternyata adik kelas saya, yang sempat belajar bersama saya, malah lulus dengan memuaskan. Sungguh sedih tak terkira. Saya sempat gamang dengan rencana hidup saya selanjutnya.
 

Dengan semangat seujung jari, saya kembali mencoba untuk melamar pekerjaan ke sebuah apotek baru, apotek Galaxy namanya. Dan alhamdulillah, saya diterima bekerja disana. Walau saya lagi-lagi memasuki dunia kerja, tapi hasrat saya untuk kuliah belumlah surut. Sambil bekerja, saya terus mencari info-info tentang perkuliahan.
 

Saya sempat terpikir untuk “bunuh diri” dengan mencoba untuk masuk teknik fisika IT Telkom. Saya tertarik masuk ke sana karena banyaknya tawaran beasiswa Telkom yang menggiurkan. Tapi syarat untuk mendapatkan beasiswa cukuplah berat bagi saya, yakni IPK minimumnya harus 3.5. 

Membayangkannya saja saya sudah sesak napas. Pasalnya saya sama sekali tidak menyukai fisika. Jangankan meraih IPK 3.5, untuk mendapatkan IPK 2.5 saja sepertinya saya harus tertatih-tatih. Akhirnya, saya urungkan niat gila itu.
 

Berikutnya, saya mendapatkan info tentang Teknik Pangan UNPAS. Menurut kabar yang tersiar, teknik pangan UNPAS adalah yang terbaik se-Indonesia. Dari prospek karir, insyaallah menjamin. Dari segi keilmuan, sangatlah menarik karena kuat akan kimianya. Namun satu hal yang menghalangi saya untuk kuliah disana, biaya.
 

Biayanya cukup mahal dan tidak terjangkau kantong saya. Masalahnya, saya membiayai kuliah  dengan jerih payah sendiri, alias tidak bisa lagi minta ke orangtua. Mau mengambil kelas karyawan, saya tidak sanggup. Karena selain lebih mahal, saya khawatir tidak sanggup mengejar keduanya. Banyak teman saya yang mengambil kuliah kelas karyawan harus berakhir dengan kemirisan. Bekerja tidak fokus, kuliah berantakkan. Dengan hambatan tersebut, saya batal untuk mendaftar kesana. 

Saya bingung harus kuliah dimana lagi. Saya menyampaikan berbagai kerisauan saya kepada guru kimia di SMKF, Pak Wawan namanya. Beliau menyarankan saya untuk masuk analis kesehatan. Alasannya, karakter keilmuan saya sangatlah pas untuk berkarya disana. Beliau juga menjelaskan dengan detail tentang materi apa saja yang akan didapatkan di analis, prospek kerjanya, dan bahkan sampai tim pengajar yang akan ditemui itu seperti apa nantinya. Dan berdasarkan keterangan beliau, analis kesehatan terbaik se-Indonesia adalah Poltekkes Depkes Bandung.  

Namun, menurutnya, untuk bisa lulus sipenmaru tidaklah mudah. Apalagi materi yang diujikan adalah materi SMA. Sedangkan materi SMK dengan SMA sangat jauh berbeda. Beliau sempat mengusulkan saya untuk masuk ke analis kesehatan swata di Cirebon milik temannya. Tapi saya menolak dengan halus. Sejak detik itu juga saya sudah memutuskan, apapun yang terjadi, saya harus masuk analis kesehatan.
 

 Sejak saat itu, fokus saya terpecah menjadi tiga, yaitu bekerja, berdagang, dan belajar. Saya harus bekerja dan berdagang untuk mengumpulkan uang kuliah. Berhubung saya tidak memiliki uang untuk ikut bimbingan belajar, saya terpaksa harus berguru kepada anak SMA yang usianya empat tahun dibawah saya. Bahkan saya sering menginap di rumah mereka untuk belajar bersama.
 

 Allah makin mendekatkan saya dengan Gunung Batu tatkala saya dipertemukan dengan alumni analis angkatan 2007. Dari mereka, saya memperoleh trik-trik belajar untuk sipenmaru, contoh-contoh soal, dan masih banyak lagi. Mereka juga memberikan gambaran detail mengenai perkuliahan di analis dan pekerjaan yang akan saya lakoni nantinya.
 

Alhamdulillah, Allah menghadiahi jerih payah saya dengan kelulusan. Walau sebenarnya saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya mahasiswi “termuda” disini. Mirisnya, saat teman-teman seumuran saya lulus kuliah tahun ini, saya malah baru masuk untuk memulai ospek.

Meski begitu, saya bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Kedua mimpi saya telah terwujud. Bisa kuliah di bidang yang saya minati dan dapat membiayai pendidikan saya dengan keringat sendiri. Atas kehendak Allah, saya dapat berdiri dengan bangga disini, sebagai warga Analis Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung.

Sabtu, 21 April 2012

Mutiara untuk Ibunda - Jilid II


Walau lelah menutupi rupamu,
walau susah menghinggapi relungmu, 
tetaplah SEMANGAT dalam menjalani melodi hidup!

Tersenyumlah, Bunda!
karena seulas senyummu dapat melisis memori duka...

Berjuanglah terus, Bunda!
karena perjuanganmu dapat menginspirasi para pemuda muslim...

Duhai pencetak Ismail-Ismail kecil...
yakinlah bahwa ALLAH slalu menaungimu dengan awan teduh...
tak usah takut akan jatuh,
karena putra-putrimu ikhlas menjadi bantalan untukmu...

GANBATTE KUDASAI!!!
I Love U, Mom....
^^

Kamis, 19 April 2012

Mutiara untuk Ibunda

Berjalan di tengah safana gersang
Kau berjuang mencari embun di tengah hamparan
Desahan napas, tak hentikan semangat untuk berkorban

Raut lelahmu tak surut saat bersua
Peluhmu tak mampu kau redam
Namun, indah senyummu kau lukis dengan tinta ketulusan

Ibunda...
Pribadi tangguhmu tak pernah kuragukan
Kelembutanmu tak pernah kusangsikan
Keikhlasanmu telah menetaskan angkara

Duhai, pendidik Ismail-Ismail kecil...
Kharismamu, teguhkan hati yg pernah membeku
Tutur katamu, meraih fitrah dalam kalbu
Sungguh, berjuta cinta, ku alamatkan untukmu...
Terima kasih, Bunda...
Kau tak pernah bosan untuk berada di sampingku...
Menata taqwa, guna menerobos kelamnya sengsara

Bingkai Badai Debu



adikku...
saat kau hadir dalam pelukan awan
memecah keraguan akan tantangan
kusambut dirimu dalam naungan samudera


Kau datang dengan bara
membakar jiwa yang terlena
terhapus sukma pada lara
yang hendak hancurkan sel-sel penyambung nyawa


aku terperangah
saat kau mulai menjadi abu
apimu ternoda percikan pilu
prasangka berlumpur batu kian berlabuh tak tentu


Raihlah tanganku!
aku tak ingin kau jatuh...
Berlarilah denganku!
memburu asa yang sempat melepuh


Namun...
pilihan terkuak mengejutkan
kau lepaskan tali ikatan
memilih memutus genggaman
mengelana bersama rayuan angin
mencari jati diri
dan kamar yang tak pasti


Jantungku berhenti berdegup
ketika goresan penamu merambah duka
melukiskan kecewa atas pemeran utama
sembilumu guratkan luka dalam memori
menyesakkan berbagai sudut hati
sesal turut temani bingkisan sepi


Sahabat, 
keberadaanmu terbalut badai debu
ku tak tahu rupa dan arahmu
aku juga belum mampu meraih anganmu


Sahabat,
walau kau hendak lupakan barisan..
aku tetap berharap kau kembali sempurna
berlari bersama,
melintasi shirat dengan kemenangan istimewa...